Sekali lagi apakah yang membuat ikon bernama Freddy Krueger ini menjadi monumental? Jawabnya tak lain adalah kekuatan karakter. Karakter? Bukankah karakter yang kuat sudah ada pada era horor klasik? Tunggu dulu. Baiklah kita tengok satu per satu komponen apa yang melatarbelakangi karakter Freddy Krueger.
Pertama, wajah. Jika diperhatikan pelbagai simbol yang melekat pada karakter Freddy Krueger adalah perwujudan dari macam-macam ikon horor sebelumnya. Karakter wajah rusak seperti Freddy sudah dapat ditemui sebelumnya dalam monster Frankenstein berwajah persegi dengan bekas jahitan di pipinya atau karakter Leatherface di Texas Chainshaw Massacre. Bedanya wajah seram Freddy bukan karena bekas jahitan dan sayatan, melainkan bekas luka bakar.
Kedua,gadget (atribut). Peralatannya berupa cakar besi (terbuat dari sarung tangan yang di bagian keempat jarinya ditambahkan potongan besi yang diruncingkan) sudah ada pada tokoh dan karakter genre slasher horor (mempergunakan senjata tajam) yang (lagi-lagi) sudah diawali di Psycho, Friday The 13 th dan Halloween. Model topi cokelatnya yang kusam tentu saja tak jauh-jauh bermaksud menjadi “kostum resmi” seperti Dracula dengan leher kerahnya yang tinggi.
Ketiga, pola membunuh. Pola membunuh Freddy adalah kegilaannya mempermainkan calon-calon korban sebelum dibunuh hingga menjadi kesenangan tersendiri sudah ada pada film Psycho dan Suspiria.
Adapun Freddy sebelum sepenuhnya menjadi iblis, di dunia nyata sudah terkenal sebagai serial killer di Elm Street dengan kesenangannya membunuh anak-anak kecil dan remaja.
Keempat, setting.Setting pembunuhan sebagai “taman bermain” Freddy adalah alam mimpi di mana penonton dibawa ke dunia “antah berantah” yang ganjil. Penonton dibawa bolak-balik antara mimpi dan kenyataan. Pola demikian sudah ada pada The Evil Dead (1983) besutan sutradara penghasil Spider-Man, Sam Raimi dan The Exorcist (1976) karya sutradara William Friedkin yang diangkat dari novel William Peter Blatty. Memang The Exorcist “hanya” menghasilkan figur setan yang muncul dalam tubuh gadis cilik yang diperankan Linda Blair. Tapi figur inilah yang baru pertama kali divisualkan berganti-ganti antara wujud manusia biasa dengan sosok iblis. Kalau dalam The Exorcist dunia gaib hanya muncul sesekali lewat tubuh seorang gadis cilik, Nightmare menggantinya dengan lebih ngeri: setelah bersua dengan sang iblis yang tak lain adalah si Freddy, penonton sekaligus dibawa ke setting kekuasaan Freddy, yaitu alam mimpi.
Tipe-tipe tersebut dikumpulkan Wes Craven menjadi satu bak struktur susunan teks sastra yang pernah dikemukakan Julia Kristeva dalam buku Structural Poetics susunan Jonathan Culler (London:Roudledge & Kegan Paul, 1977). Dalam buku tersebut tertulis bahwa setiap teks sastra sebenarnya hanyalah merupakan mosaik kutipan-kutipan dan merupakan penyerapan serta transformasi dari teks-teks lain. Dengan kata lain, tak ada karya teks sastra di dunia ini yang tidak terpengaruh karya orang lain, demikian pula karya seni lain seperti lukisan dan film. Wes berhasil mengumpulkan mosaik-mosaik tersebut ke dalam karakter yang disusunnya ke bahasa visual dalam satu karakter bernama Freddy Krueger.
Hal demikian tak dapat dipungkiri lagi jika melongok perjalanan kariernya sebelum menciptakan Freddy Krueger, Wes juga bersahabat dengan produser film Friday The 13 th, Sean S. Cunningham. Persahabatan inilah yang menjadi bibit-bibit tersemainya tokoh Freddy Krueger. Friday The 13 th yang melejitkan Jason Vorhees, tokoh psikopat dengan goloknya yang mematikan itu tentu saja menjadi satu dari sekian karakter yang menjadi inspirasi pria kelahiran Cleveland, 65 tahun lalu dalam menciptakan Freddy. Adapun film yang menjadi debut penyutradaraannya di genre horor, Last House on The Left (1972) tak lepas dari supervisi Sean S. Cunningham.
Ikon yang Menjadi Cult
Kemunculan setan fenomenal Freddy Krueger segera membuat tiap sequelnya menjadi cult, alias menuai popularitas dan fans yang fanatik. A Nightmare on Elm Street mendadak menjadi cult movie. Cult movie adalah istilah untuk film yang semula dilecehkan namun tak bisa begitu saja dilupakan. Istilah ini pertama kali muncul dari kritikus film kondang Roger Ebert dalam ulasannya di Chicago Sun-Times.
Menurut Ebert, tipikal cult adalah ketika film itu ditayangkan pengaruhnya begitu besar kepada masyarakat, entah itu dari filmnya sendiri yang memang dapat dipertanggungjawabkan dari segi estetik sehingga mampu memberi pengaruh pada genre film sesudahnya, sekaligus punya penggemar fanatik bahkan menjadi trendsetter.Cult movie sendiri memang dimaksudkan sebagai bentuk film yang tertarik pada benda-benda sehari-hari sebagai cermin dari dunia industri sehingga menyimpan semangat yang kurang lebih serupa dengan yang dilakukan pengamat dan pengkaji seni rupa Inggris, Lawrence Alloway tatkala membuat istilah pop art sebagai penamaan kesadaran baru dari sekelompok pelukis dan cendekiawan Inggris akan perlunya alternatif baru.
Uniknya, cult movie tak berarti harus berlaku pada film-film kategori “A” seperti Taxi Driver atau Apocalypse Now sekalipun. Film yang dibuat dengan naluri menghibur semata (bahkan bujet ringan atau masuk kategori “B” movie sekalipun) tetap saja bisa menjadi cult movie asal punya penggemar fanatik dan sangat bersuara pada zamannya, yaitu zaman ketika film itu dirilis.
Orang-orang di zaman 1970 dan awal 1980-an pasti tak akan melewatkan film-film seperti King Kong, Saturday Night Fever, Grease, atau yang paling tua adalah film Big Boss aSaglab Kissingsexynakedmaids Ko Secondspring 1 EDHealthcare Viagra Pfizer Soft Viagra Kissing Sexy Naked Maids Filmsiana:Sosok Ngeri itu Bernama Freddyy Sexy zSaglab Kissingsexynakedmaids Ko Secondspring 1 EDHealthcare Viagra Pfizer Soft Viagra Kissing Sexy Naked Maids Filmsiana:Sosok Ngeri itu Bernama Freddyj Maids Naked f Kissing Sexy